Berinvestasi di pasar modal memang menawarkan peluang keuntungan yang besar, tetapi seiring dengan potensi cuan, ada pula risiko yang harus dihadapi investor.
Inilah kenapa investor pemula maupun berpengalaman perlu memahami berbagai jenis risiko investasi – bukan untuk menakuti diri sendiri, tetapi agar lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Pasalnya, risiko bukan sesuatu yang bisa dihindari. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola risiko agar dampaknya minimal, dan portofolio tetap aman meskipun kondisi pasar sedang tidak bersahabat.
Di artikel ini, kita akan membahas berbagai jenis risiko di pasar modal yang perlu kamu tahu, lengkap dengan cara efektif untuk menghindarinya. Yuk, mulai!
Jenis Risiko Investasi di Pasar Modal
1. Risiko Pasar (Market Risk)
Risiko pasar adalah risiko yang muncul akibat perubahan kondisi pasar secara keseluruhan. Faktor penyebabnya bisa berupa:
- Ketidakstabilan politik
- Perubahan ekonomi global
- Inflasi tinggi
- Krisis keuangan
- Sentimen negatif investor
Dampaknya? Harga saham, obligasi, reksadana, hingga ETF bisa jatuh bersamaan.
Cara Menghindari Risiko Pasar:
- Diversifikasi portofolio ke berbagai aset
- Pilih saham atau instrumen dengan fundamental kuat
- Investasi jangka panjang agar tidak terpengaruh fluktuasi jangka pendek
2. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Risiko likuiditas terjadi ketika produk investasi sulit dijual kembali saat kamu butuh dana. Misalnya, saham perusahaan kecil (small cap) sering memiliki volume transaksi rendah, sehingga butuh waktu lama untuk dicairkan.
Cara Menghindarinya:
- Pilih saham atau instrumen yang likuid
- Cek frekuensi transaksi harian sebelum membeli
- Hindari menaruh dana besar pada produk dengan volume transaksi rendah
3. Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk)
Risiko ini terutama memengaruhi obligasi dan reksadana pendapatan tetap. Ketika suku bunga naik:
- Harga obligasi turun
- NAB reksadana obligasi ikut terkoreksi
Ini terjadi karena investor lebih memilih instrumen ber-yield tinggi.
Cara Menghindarinya:
- Pilih obligasi dengan durasi pendek
- Diversifikasi ke instrumen yang tidak sensitif terhadap suku bunga
- Pantau kebijakan suku bunga Bank Indonesia
4. Risiko Gagal Bayar (Default Risk)
Risiko ini muncul ketika penerbit obligasi tidak mampu membayar bunga (kupon) atau pokok pinjaman.
Biasanya lebih banyak terjadi pada obligasi korporasi dengan rating rendah.
Cara Menghindarinya:
- Pilih obligasi dengan rating tinggi (A, AA, AAA)
- Cek laporan keuangan perusahaan penerbit
- Prioritaskan obligasi pemerintah yang lebih aman
5. Risiko Nilai Tukar (Currency Risk)
Bagi investor yang membeli saham atau obligasi luar negeri, perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang lain dapat memengaruhi nilai investasi.
Saat rupiah melemah, nilai investasi dalam mata uang asing bisa naik atau sebaliknya.
Cara Menghindarinya:
- Pahami tren mata uang
- Gunakan produk hedging jika perlu
- Jangan menaruh seluruh dana pada instrumen luar negeri
6. Risiko Inflasi (Inflation Risk)

Jika inflasi lebih tinggi daripada return investasi, nilai riil uangmu justru turun.
Misalnya, return 5% per tahun tetapi inflasi 7% → nilai kekayaanmu tetap berkurang.
Cara Menghindarinya:
- Pilih instrumen yang bisa mengalahkan inflasi seperti saham atau reksadana saham
- Diversifikasi ke emas atau properti sebagai pelindung nilai
- Sesuaikan strategi dengan kondisi ekonomi
7. Risiko Operasional (Operational Risk)
Risiko ini terjadi akibat kesalahan internal seperti:
- Gangguan sistem
- Kesalahan pencatatan
- Kecurangan pihak tertentu
- Manajemen perusahaan yang buruk
Risiko operasional sering terjadi pada perusahaan yang tidak memiliki kontrol internal yang baik.
Cara Menghindarinya:
- Pilih perusahaan atau manajer investasi bereputasi baik
- Pastikan platform investasi terdaftar dan diawasi OJK
- Hindari instrumen ilegal
8. Risiko Regulasi (Regulatory Risk)
Keputusan pemerintah atau perubahan regulasi dapat memengaruhi pasar modal. Contohnya:
- Aturan baru terkait perpajakan
- Pembatasan transaksi tertentu
- Perubahan kebijakan sektoral
Kondisi ini dapat membuat harga saham atau obligasi bergerak drastis.
Cara Menghindarinya:
- Selalu update berita ekonomi dan kebijakan
- Jangan menaruh dana besar di sektor yang sangat bergantung pada regulasi
- Diversifikasi ke sektor lain yang lebih stabil
9. Risiko Psikologis (Emotional Risk)
Ini adalah risiko yang paling sering dialami pemula. Ketika harga turun sedikit, panik. Saat harga naik, FOMO. Akibatnya, keputusan investasi jadi tidak rasional.
Cara Menghindarinya:
- Gunakan strategi dollar cost averaging (DCA)
- Tentukan tujuan investasi dan timeline yang jelas
- Jangan terlalu sering cek portofolio
- Belajar analisis dasar agar percaya diri
Cara Umum Menghindari Risiko dalam Investasi Pasar Modal
Setelah memahami berbagai risiko, berikut adalah strategi umum agar portofolio tetap aman:
- Diversifikasi Portofolio. Bagi dana ke berbagai instrumen: saham, obligasi, reksadana, emas, dan lainnya.
- Pastikan Sesuai Profil Risiko. Jangan memaksakan diri masuk ke saham agresif jika kamu tidak nyaman dengan volatilitas.
- Gunakan Strategi Jangka Panjang. Pasar modal selalu bergerak naik-turun. Namun jangka panjang, tren biasanya naik.
- Selalu Update Informasi. Ikuti berita ekonomi, pergerakan pasar, dan analisis terkini untuk keputusan yang lebih tepat.
- Gunakan Platform Terpercaya. Pastikan aplikasi atau sekuritas tempat kamu berinvestasi diawasi OJK.
- Miliki Dana Darurat. Agar tidak terpaksa menjual aset saat harga sedang turun.
Risiko investasi tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola dengan strategi yang tepat. Mulai dari risiko pasar, likuiditas, suku bunga, hingga risiko psikologis – semuanya bisa diminimalkan dengan persiapan dan pemahaman yang baik.
Dengan memahami berbagai risiko tersebut, kamu bisa membangun portofolio yang lebih aman, stabil, dan tetap menguntungkan dalam jangka panjang.
Ingat, kunci investasi sukses bukan hanya soal memilih produk terbaik, tetapi juga memahami risikonya.







